Lingkuingan Hidup menrut Islam dan prilaku negara maju

Wakaf Lingkungan Semakin Mendesak
Banjarmasinpost.co.id – Kamis, 9 Juni 2011 | 01:34 Wita | Dibaca 345 kali | Komentar (0)
ARTIKEL TERKAIT:

* Aksi Arsitektur Hijau
* Budi Pekerti Diteladankan Bukan Diajarkan
* Mengurai Akar Masalah Kerusakan Lingkungan
* Menanam Pohon dalam Perspektif Amal

Oleh : Moch Arif Budiman

Negara-negara maju umumnya sudah melangkah cukup jauh dalam implementasi pembangunan berkelanjutan. Anggapan yang menyatakan kerusakan lingkungan merupakan harga yang harus dibayar atas kemajuan ekonomi sudah lama ditinggalkan.

Mereka juga menentang argumen bahwa polusi merupakan buah dari proses pembangunan. Pembangunan dan pelestarian lingkungan semestinya berjalan beriringan, bukan saling menafikan.

Sebagai contoh, Jerman merupakan negara yang menjalankan kebijakan memadukan pembangunan dan pelestarian lingkungan dengan cara, memasukan kebijakan tentang pelestarian alam ke dalam Undang-Undang Dasar dan menjadikannya sebagai tujuan pembangunan nasional Jerman.

Cara lain adalah berupaya keras mengurangi emisi gas rumah-kaca dan mendukung pemanfaatan energi terbarukan dan efisiensi energi.

Di Italia baru-baru ini melarang penggunaan kantong plastik di pertokoan dan supermarket dan mewajibkan pemakaian tas kertas dan kain sebagai penggantinya.

Hal ini karena plastik merupakan polutan paling jahat sebab selain membutuhkan banyak bahan bakar untuk memproduksinya, kantong plastik juga sangat sulit terurai saat sudah menjadi sampah.

Sementara itu, di negara-negara berkembang kesadaran dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan masih jauh dari menggembirakan.

Kemajuan pembangunan umumnya harus ‘dibayar’ dengan penurunan kualitas lingkungan. Polusi, kemacetan, urbanisasi dan kemiskinan merupakan di antara problem krusial perkotaan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, yang berdampak langsung terhadap kelestarian lingkungan.

Indonesia memiliki 120,35 juta hektare kawasan hutan yang merupakan paru-paru bumi. Keberadaan hutan tersebut tidak hanya penting untuk bangsa Indonesia, tetapi juga bagi seluruh dunia. Namun, deforestasi (perusakan hutan) yang amat dahsyat telah menghancurkan 59,6 juta hektare kawasan hutan kita.

Bahkan pada 2008, Indonesia dianugerahi Certificate Guinnes World Records sebagai perusak hutan tercepat di dunia. Berdasarkan data PBB, pada 2000-2005, rata-rata 51 km2 perhari –setara dengan luas 300 lapangan bola– hutan Indonesia hilang (rusak).

Penyebab utama deforestasi di Indonesia adalah kegiatan industri (legal dan illegal), pengalihan fungsi hutan menjadi perkebunan, dan akibat kebakaran hutan.

Upaya menjaga kelestarian alam termasuk tujuan diturunkannya Islam (maqashid syariah). Dalam konteks pembangunan berkelanjutan Islam memiliki instrumen wakaf yang menuntut pengelolaan berdasarkan prinsip kelanggengan.

Artinya setiap harta wakaf harus tetap utuh dan terhindar dari kerusakan sehingga senantiasa mengalirkan pahala (jariah) bagi pihak berwakaf.

Selama ini wakaf lebih banyak didayagunakan untuk pengembangan kegiatan keagamaan, pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sementara untuk pelestarian lingkungan, wakaf masih sangat jarang dilakukan.

Sejumlah lembaga wakaf di tanah air sebenarnya sudah merintis program wakaf untuk lingkungan, seperti wakaf pohon dan wakaf sumur air bersih, namun upaya seperti ini masih amat terbatas dan bersifat sporadis.

Mempertimbangkan ancaman krisis lingkungan, terutama dampak dari deforestasi yang tak terkendali, maka program wakaf pohon kiranya perlu mendapat perhatian lebih dari umat Islam karena ini menyangkut upaya vital menjaga kelangsungan planet bumi dan penduduknya (hifz an-nafs dan hifz an-nasl), baik untuk masa kini maupun akan datang.

Mari kita gencarkan kembali program menanam pohon di lingkungan kita masing-masing.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menanam pohon dan menabur benih, kemudian hasilnya dimakan manusia, burung, atau binatang lain, maka itu merupakan sedekah baginya” (Imam Ahmad).

Di hadis lain, “Seandainya besok adalah hari kiamat, dan di tangan salah seorang dari kalian ada benih tumbuhan, maka hendaklah dia menanamnya” (al-Bukhari).

Hal ini mengindikasikan bahwa menanam pohon adalah suatu program yang harus dilaksanakan secara terus menerus hingga akhir zaman.

Akhirnya, menanam pohon tidak hanya dapat mengurangi polusi, meredam pemanasan global dan perubahan iklim, serta menghasilkan manfaat sosial-ekonomis, tetapi lebih daripada itu, ia juga merupakan ibadah yang berdimensi ukhrawi.

Wallahua’lam.

Penulis, dosen Politeknik Unlam belajar di International Islamic University Malaysia
red: DhenySumber: Banjarmasin Post
Share
Cetak
Kirim Artikel
Redaksi Bpost Group: 0511 3354370
Email : redaksi@banjarmasinpost.co.id atau banjarmasin_post@yahoo.com
Iklan : 08115003012
Sirkulasi & Promosi : 08115002002

Dapatkan kabar Banua terbaru melalui ponsel, blackberry anda di: http://m.banjarmasinpost.co.id

Tinggalkan sebuah Komentar

cara taubat zina tanpa hadd

Bertaubat dari Zina Saat Tidak Diterapkan Hukum Hadd

Jum’at, 28 Januari 2011

Hidayatullah.com–Sebagaimana diketahui, dalam syariat Islam, jika seorang mukallaf melakukan perbuatan zina, jika ia belum menikah (ghairu muhshan) maka hukumannya adalah dicambuk seratus kali, merujuk ayat, yang artinya,”Wanita pelaku zina dan laki-laki pelaku zina, maka cambuklah setiap orang dari keduanya seratus cambukan.” (An Nur: 2)

Selain dicambuk juga diasingkan selama satu tahun, sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Al Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Sedangkan bagi mereka yang sudah menikah (muhshan) maka hukumannya adalah dirajam hingga meninggal, merujuk kepada ayat, yang artinya,”Laki-laki lanjut usia (syeikh) dan perempuan lanjut usia (syaikhah) jika melakukan zina, maka rajamlah keduanya.” Ayat ini lafadznya telah dihapus (mansukh) namun, hukumnya masih berlaku. Demikian pula Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga telah merajam Maiz dan Al Ghamidiah. (Lihat, Al Mughi Al Muhtaj, 4/177, 182).

Namun, ketika syariat, terutama hukum hadd (hukum yang diatur oleh nash) ini tidak diberlakukan, sebagaimana yang terlihat di mayoritas negara Muslim saat ini, jika yang bersangkutan ingin bertaubat dan ingin dilaksanakan hadd atasnya, Dar Al Ifta’ Al Mishriah (Lembaga Fatwa Mesir) menyampaikan penjelasan kepada hidayatullah.com (26/1), bahwa yang bersangkutan (pelaku zina) hendaknya melakukan taubat nashuhah, yakni dengan beristighfar dan benar-benar menyesal atas apa yang telah ia lakukan, serta bertekad kuat dan sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi perbuatannya kembali, selama dalam kondisi demikian (tidak laksanakan hadd oleh pemerintah) berlangsung. *

Rep: Thoriq
Red: Cholis Akbar

Share |

KOMENTAR

Makmur Sidin , Senin, 31 Januari 2011
Subhanallah! Ampunan Allah sangat luas.. Bahkan yg terbetik di hati adalah zina.. “sesungguhnya Allah mengatahui mata2 yang berkhianat”

Tri , Selasa, 01 Februari 2011
semoga dg taubat nasuha tsb dia diampuni ALLoh,, namun dg tdk dlksnknnya hukuman hadd thd org tsb -yg hukumnya fardhu oleh pemerintah–,,pemerintah terkena dosa karena mengabaikan hukum ALLoh .. Rakyat–yg umat islam– pun kena dosa kalau diam saja Hukum ALLoh diabaikan.. WaLLohu a’lam

Arief B , Rabu, 02 Februari 2011
Setuju dengan komennya Pak, terutama untuk pelaku yg muhshan(sdh menikah), karena hukum had yg dilakukan di dunia benar2 menerapkan ke adlilan , karena sang korban(suami/istri yg di selingkuhi) akan merasa tentram dan tidk timbul dendam pd pelaku, begitu jg untuk anak2/ketujrunan tdk terbebani dgn aib org tuannya, karena pelaku dah mendapat hukuman, dan Insya Allah jika pelaku benar2 ikhlas menerima hukuman tsb, akan terbebas dari hisab di akhirat kelak….CMIIW

Tito , Kamis, 03 Februari 2011
Sesungguhnya tobatnya zina adalah Raza bukannya istigfar,, karena Rasulullah tidak menyuruh maiz u/ beristigfar, akan tetapi menyurh maiz agar dirajam.. Ini adalah dampak tidak adanya pemerintahan Islam di bawah naungan Khilafah yang akan memberlakukan seluruh syariat Allah secara kaffah.. Semoga Allah memberi petunjuk kepada para ulama pada abad ini, dan agar tidak memfatwakan ‘keringanan’ terhadap syariat dengan mudahnya,, Sesungguhnya hukuman razam akan ada terus hingga hari kiamat selama terompet sangkakala belum ditiup, n lanit belum juga runtuh..

L. Cikal , Jum’at, 04 Februari 2011
Karena tidak adanya hukum Islam yang tidak diterapkan maka para pelaku zina merajalela bagai penyakit wabah yang cepat menularkan, maka obat yang paling ampuh adalah RAJAM.

Suharti Ekayanti , Senin, 07 Februari 2011
mengapa pemerintah mbiarkan pelaku zina dimana mana yaitu dg adanya tempat2 prostitusi, zina sudah mjd hal biasa d masyarakat, zina d hotel2< tmpat2 hiburan, zina hrs diberangus diberantas

Hani , Senin, 07 Februari 2011
zina hati.

Umi , Senin, 14 Februari 2011
miris dan prihatin. pemerintah tak tahu agama, rakyat jadi celaka. pemerintah berdosa, rakyat berdosa. maraknya perbuatan zina karena adanya pembiaran. lebih dari itu, fasilitas perzinahan justru banyak dibangun. betapa generasi kita dibiarkan berbuat zina dimanapun!! di negeri ini

Wahab Abdul , Sabtu, 26 Februari 2011
Ya Allah ampuni aku Ya Allah.. atas dosa dosa yang telah aku perbuat slama ini, baik yang aku sengaja atau yang tidak aku sengaja… sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha penerima taubat….Amiin.

M. Zuhir Syahrial , Senin, 07 Maret 2011
Para tokoh agama, media islam, MUI demi mengislamkan orang islam di negeri kita, wajib menyi'arkan serta menegaskan fatwa hukumnya zina dan yang mendekati zina di Indonesia ini. Coba kita lihat lagi betapa banyaknya perzinahan dari usia SD sampai kakek2, dan betapa maraknya perselingkuhan pasutri, serta pacaran ala barat, siapa yang salah? Sebenarnya kita semua yang salah

M. Zuhir Syahrial , Senin, 07 Maret 2011
Astaghfirullahal\'adhim ! Seandainya di bumi kita pertiwi banyak lahir bayi-bayi dari rahim wanita2 pezina, betapa kita bayangkan 40 tahun kedepan bagaimana nasib negara dan bangsa ini. Insya Allah Indonesia akan menjadi negaranya syetan. Mari kita cegah sejak dini sebelum perkembangbiakan syetan merajalela di tanah air yang kita cintai ini.

Prayogo , Jum'at, 01 April 2011
pak saya ingin bertanya, jika kita bertaubat dari hal demikian,, tapi melakukan lagi,, lalu kita ingin benar2 bertaubat nasuha dan menyesali nya apa hukum nya dalam islam.. tolong di kirim ke email saya pak

KIRIM KOMENTAR ANDA :

Nama
Email
Komentar Anda
Kode Keamanan

CAPTCHA Image

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Hidayatullah.com. Redaksi berhak menghapus/menutup komentar yang berbau pelecehan, kasar, intimidasi, bertendensi SARA.

Peluang Usaha

Grosir Kaos Kaki

GROSIR KAOS KAKI, tersedia aneka warna, dibutuhkan reseller seluruh Indonesia. Hub. Rina 08155100517 http://www.serbaadamuslim.com

Berita Fatwa Lainnya
Produksi Parfum dengan Alkohol
Dar Al Ifta' Larang Penyesatan terhadap …
Berdoa Kebaikan Dunia untuk Orang Kafir
Akhirnya, Salafi Bolehkan Pemilu
Haramnya Tato dan Operasi Kecantikan
Tatkala Salafi Memilih Berdemonstrasi
Ulama Aljazair Keluarkan Fatwa Larangan …
Hukum Kerja di Warnet
Hukum Sebut “Sayyid” untuk Rasulullah
Al Qaradhawi:”Al Qadianiyah, Minoritas N…

Tinggalkan sebuah Komentar

Sayyid utk Nabi saw

Hukum Sebut “Sayyid” untuk Rasulullah

Senin, 07 Maret 2011

Hidayatullah.com—Dar Al Ifta Al Mishriyah, lembaga fatwa resmi Mesir dalam fatwa no. 292, membahas mengenai hukum mengucap “Sayyiduna” kepada Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam. Fatwa ini dikeluarkan untuk merespon permohonan fatwa bernomor 2724, yang diajukan ke Dar Alifta, mengenai masalah tersebut.

Dalam fatwa itu disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alahi Wassalam merupakan “Sayyid” (tuan) bagi seluruh makhluk adalah ijma’ umat Islam. Bahkan beliau sendiri telah bersabda,”Aku adalah sayyid (tuan) anak Adam”, dan diriwayat lain disebutkan,”Aku sayyid (tuan) manusia”, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Sedangkan Allah sendiri juga memerintahkan manusia untuk memuliakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, yang artinya, ”Sesungguhnya Kami telah mengutusmu sebagai saksi dan pemberi kabar gembira serta pemberi peringatan agar kalian beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Dan menolong-Nya, mengagungkan-Nya serta bertasbih kepada-Nya di pagi hari dan petang.” (Al Fath: 8-9)

Sebagian ulama menilai bahwa perintah mengagungkan, kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Menurut Imam Qatadah dan As Suddi, mengagungkan Rasulullah termasuk mensayyidkan beliau.

Sahabat Sebut Nabi dengan “Sayyid”

Dari Sahl bin Hunaif Radhiyallahu anhu, beliau mengatakan, ”Kami melalui tempat air mengalir, maka aku turun dan mandi dengannya, setelah itu aku keluar dalam keadaan demam. Maka hal itu dikabarkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Alihi Wasallam. Maka beliau bersabda, ”Perintahkan Aba Tsabit untuk meminta perlindungan.” Saya mengatakan,”Wahai Sayyidku (tuanku) apakah ruqyah berfungsi?” Beliau bersabda,”Tidak ada ruqyah kecuali karena nafs (ain), demam atau bisa.” (Al Hakim, beliau menyatakan isnadnya shahih)

Shalawat Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar gunakan “Sayyid”

Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar juga menyebut “Sayyid” untuk Rasulullah dalam shalawat beliau berdua. Ibnu Mas’ud pernah mengajarkan,”Jika kalian bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, maka baguskanlah shalawat untuk beliau, sesungguhnya kalian tidak tahu bahwa shalawat itu ditunjukkan kepada beliau. Maka, mereka mengatakan kapada Abdullah bin Mas’ud,’Ajarilah kami.’ Ibnu Mas;ud menjawab,’Ucapkanlah, Ya Allah jadikanlah shalat-Mu dan rahmat-Mu dan berkah-Mu untuk Sayyid Al Mursalin (tuan para rasul), Imam Al Muttaqin (imam orang-orang yang bertaqwa), Khatam An Nabiyyin (penutup para nabi), Muhammad hamba-Mu dan rasul-Mu, Imam Al Khair (imam kebaikan), Qaid Al Khair (pemimpin kebaikan) dan Rasul Ar Rahmah (utusan pembawa rahmat).’” (Riwayat Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Hafidz Al Mundziri)

Atsar serupa juga diriwayatkan dari Ibnu Umar, sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dalam Al Musnad, dengan sanad hasan pula.

Walhasil, menyebut Rasulullah dengan gelar “Sayyid” adalah perkara yang disyariatkan.*
Sumber : dar-alifta.org
Rep: Thoriq
Red: Cholis Akbar

Share |

KOMENTAR

M. Iqbal , Senin, 07 Maret 2011
pendapat anda lemah, apakah anda tidak membaca pendapat syaik shalih al utsaimin, abdul aziz bin baz, syaik al bani yag melarang menggunakan kata sayid dlm menyebut nama Nabi Muhammad saw. bukankalh dlm hadits yg shohih dlm kitab mutafaqun alaih Nabi saw menyuruh tanpa menggunakan sayid

Aprie , Senin, 07 Maret 2011
Alhamdulillah, telah jelas kedudukan sebutan Sayyid untuk Rasulullah. Jazakumullah informasinya

Mbah Petruk , Senin, 07 Maret 2011
mulai nanti, jika shalawat, insyaAllah, aku akan tambahi “Sayyidina”, biar lebih mantap…..

Ahmad , Senin, 07 Maret 2011
Terimakasih atas infonya, tapi kalau dalam shalat, apa kata \\\”Sayyid\\\” juga harus disebutkan sebelum nama nabi Muhammad SAW dan nabi Ibrahim AS

Punyoku , Senin, 07 Maret 2011
artikel yg bagus.. Ane tak suka klw baca artikel yg slalu membid\’ahkn org lain… Sdkit2 bid\’ah! sdkit2 sesat. Tapi hidayatullah slma ini netral..Tak mnyinggung pihak manapun. Teruslah berdakwah lewat situs ini..

Fauzi Muhammad Ali , Senin, 07 Maret 2011
Kata “sayyid” utk Rosululloh prlu tafshil.artinya klo dluar shalat,dperbolehkan d tambahi “sayyidina”.tp klo DALAM SHALAT maka tdk dperbolehkan.krn shalat it sdh ta’abbudi yaitu sdh ada teks.tdk prlu d tambahi & dkurangi sdkitpun.waAllohu a’lam.

Chanan , Senin, 07 Maret 2011
jah.,pendpt bin baz d pakai.

Lukman , Senin, 07 Maret 2011
tapi kenapa pada sa’at adzan koq gak ada yang pake sayyidina, kalo mmg di syariatkan harusnya sa’at adzan juga pake dong.

Andi , Senin, 07 Maret 2011
U/ Hidayatullah… sebaiknya merujuk pada referensi yg lain dan membandingkan dengan hadits2 yg lain.. @Punyoku: Harus memang dibedakan akhiy,, yg mana sunnah yg mana bid’ah.. man ‘amala ‘aamilan laisa alaihi amruna fahuwa raddun “brg siapa yg melakukan suatu amalan yg tdk kami perintahkan, maka ia tertolak.. Smg Allah menunjuki kita ke jalan yg benar

Budiman , Senin, 07 Maret 2011
trima kasih. dah ada dalil yg mbolehkan. meski ad yg bilang ga boleh. ya terserah, aku ikut pendapat yg ini.

Heri , Senin, 07 Maret 2011
saya lebih suka dengan yang umum diriwayatkan dengan periwayatan yang lebih banyak. yaitu tanpa sayyid…

Abu Ayyub , Selasa, 08 Maret 2011
Buat mas Iqbal: Jangan tergesa-gesa, syaikh utsaimin membolehkan: lihat Lihat Al Quol Mufid Syarh Kitab Tauhid-Syaikh Utsaimin di BAB MAA JAA FIE HIMAYATI AN NABI HIMAA AT TUHID WA SADDIHI THURUQI ASY SYIRK

Abu Haydar , Selasa, 08 Maret 2011
Dasar sudah jelas, kok masih saja ada yang menolak. Apa salahnya umat Islam memberi pengormatan Nabinya dengan \’SAYYID\’?.. Kita saja manggil guru kita dgn SYEH Albani, SYEH Alutsimin dll, lalu untuk NABI umat ISLAM kok berat sekali manggil diawali dgn SAYYID???.. Anda ini cinta Nabi Muhammad apa …….? Makanya belajar agama jgn setengah2, jadinya fanatik buta.. ILMU SEDIKIT.. PELIT… WAWASAN SEMPIT..

Zaeroni , Selasa, 08 Maret 2011
yaa sayyiiidi….ya rosulluloh…ane ikut yang telah diajarkan oleh guru….jgnlah kita menyebut nama Nabi Muhammad SAW sama seperti nama orang lain…Subhannalloh

Yunus , Selasa, 08 Maret 2011
ALLOHUMMA SHOLI ‘ALA SAYYIDINA WA MAULANA MUHAMMAD ALLOHUMMA SHOLI ‘ALAIHI

Abu Sabiq , Selasa, 08 Maret 2011
kalau di luar salat, silakan membaca lafal SAYYID. Namun kalau di dalam salat sebaiknya tidak menggunakannya. Inilah cara menggunakan hadis-hadis tersebut.wallahu’alam bishshawab

Agus Aja , Selasa, 08 Maret 2011
Ibnu taymiah muqaddimah fatwa beliau juga menambahkan kata sayyidina…jadi…boleh2 saja…!!

Ruze , Selasa, 08 Maret 2011
mas apakah tdk bertentangan dengan hadist2 yg lebih soheh. seperti di bukhori atau muslim

Sayyid Muhammad , Selasa, 08 Maret 2011
DALAM ATAU LUAR SHALAT PAKAI SAJA “SAYYIDNA”. APA SALAHNYA AYO ??? MEMANGNYA BERDOSA ??? KALAU MAU CINTA RASULULLAH SAW JANGAN NANGGUNG..

Abdullah , Selasa, 08 Maret 2011
saya ragu dengan keimanan org yg melarang2 umat islam menyebut sayyid pada Kanjeng Nabi Muhammad Shalallahu alahi wassalam. ini ada semacam sifat yahudi yg memusuhi nabi2 mereka. atau jangan2 ngajinya belum selesai?? kalaupunada satu ulama yg berfatwa berbeda, qta sebagai umat harus ikut yg jumhur (mayoritas), bukan tidak menghormati beliau itu tapi begitulah qoidahnya. jadi, bukan masalah hadits atau pendapatnya yg dhoif, tapi imannya yg dhoif jiddan. Allahumma Sholli ala sayyidina Muhammad…Wa aalihi wa shohbihi..

Anto , Rabu, 09 Maret 2011
Akhil Kariim, Beda Pendapat sudah biasa. Janganlah kita merasa paling benar sendiri! Ayo kita tunjukan akhlaq Rosul yang mulia, dengan tidak menyakiti perasaan saudaranya. Innama Bu’its tu Li utam mima makaarimal akhlaq ! Salam

Nugie , Rabu, 09 Maret 2011
ucapan sayyidina merupakan sesuatu yg diperdebatkan. Perkara yang samar-samar dan diperdebatkan menurut sy lebih baik ditinggalkan. Masih banyak jalan untuk mencintai Rosul kita. mulai dari mencontoh kemuliaan akhlaknya, mengamalkan amalan2 sunnahnya, menghiasi diri kita dengan sifat-sifat beliau, jujur, amanah dst.. meski kt ada perbedaan,jgn saling mencela, mari kita perkuat ukhuwah antar sesama muslim.

Yusuf , Rabu, 09 Maret 2011
kalo di tambah Raden Mas boleh ndak, khan sama2 sanjungan?

Wiro , Rabu, 09 Maret 2011
betul,..jangan terjebak hal2 yang kecil ( furuiyah) ayo tunjukan Akhlaq Rasulloh sebagai teladan keseharian baik,..berkehidupan pribada,..masyarakat,.bangsa dan bernegara.

Hudan , Kamis, 10 Maret 2011
iya, mari kita junjung bersama. Jangan saling menghina. Dalam perdebatan cele-mencela ini, (mungkin) Rasulullah bisa marah pada kita. Semoga Allah SWT menunjukkan jalan yang lurus. Amin

Mashadi , Kamis, 10 Maret 2011
Sesiapa boleh beri pendapat atau pandangan selama ada dalilnya, pendapat yang berdalil di dahulukan drpd yang tak berdalil, dalil ada beberapa acara, dalil qatei, dalil Zhonni, dan lainnya, dalil qatei di pkai dalam bab akidah, manakala dalil Zhonni di pakai dalam bab fekah, dan kaedah fekah ada menyebut : ijtihad tidak boleh membathalkan dengan ijtihad, selama ada dalil kita terima yang tak mahu terima, jangan keras keras, teruskan dengan kerasnya, nantikan kita jumpa tuhan di acara pengadilan, disana kita tahu siapa yang bener atau sebaliknya, he he heY

Imam Al Fahmi , Kamis, 10 Maret 2011
kalo kita memanggil presiden dgn sbutan “pak presiden” apakah salah jika kita menyebut nama Rasul dengan sayyid?jika Nabi tidak pernah mencontohkan ya tentu saja, karna jika ada seorang haji yg justru meminta org lain utk memanggilnya pak haji tentu org lain akan menganggap ia sombong. silahkan mencari rujukan hadist tapi jgn skali-kali mengkritisi hadist.

Nugroho , Kamis, 10 Maret 2011
Assalamu’alaikum…….Hadist ada jutaan, SIAPA YG SOK PINTER seolah-olah tahu bahwa tdk ada dalilnya ( biasanya sih yg sering bilang BID’AH ) padahal krn ketidak tahuanya saja.Spt sy waktu pertama ke Surabaya naik bis tahunya Surabaya itu ya hanya sebuah terminal bis, setelah sekian lama baru tahu deh kalau di Sby itu ada ZOOnya,ada Gubengnya, bahkan ada Dollynya juga, jadi maksudnya jgnlah buru -buru ngomong gak ada dalilnya. 1. Rasulullah SAW tdk pernah menyuruh menulis hadist yg ada justru melarang menuliskannya spy tdk tercampur dng Alqur’an. ada seni kaligrafi, ada MTQ….dll 2. Siapa yg sdh menikah? apakah punya buku nikah? Apakah Rasulullah punya/mengajarkan? 3. Siapa yg punya rumah/ motor/mobil? kredit? Apakah dicontohkan/ada perintahnya? SIAPA HAYO YG BERANI BILANG BID’AH (HE…HE…HE… ) Mestinya kt belajar banyak dr kisah Rasulullah Musa AS yg masih diperintahkan untuk berguru kpd Nabi Khidir AS. padahal klo dibanding kita2 ini jelas sekali ……… Hayo… masih merasa pinter? mestinya sih pinter merasa adalah lebih bijak. wassalam.

Ibn Ahmad , Kamis, 10 Maret 2011
@ Akhina M. Ikbal : Dalil yang mana yang anda bilang lemah, telah jelas paparan Hadits tersebut berikut derajatnya. Akhina, carilah kebenaran bukan pembenaran, tanpa mengurangi rasa hormat kpd Ulama2 yg anda sebutkan, apakah yang boleh mensyarahkan Hadits ataupun memberi kedudukan atas hukum atas suatu hadits hanya Mereka, apakah Ulama lain tidak berhak,, Afala Ya\’qilun ya akhi,, Ahdiru Qulubikum ya akhi,,

Abang , Kamis, 10 Maret 2011
ada-aa ja….syaidina segala…kalo tahlilan boleh..tapi kalodalam sholat jangan..hidyatullah masih sepihak dalam membela sunnah

Binhasan , Jum’at, 11 Maret 2011
SubhanaLLOH banyak faidah tulisannya Ustadz

Abuhamzah , Jum’at, 11 Maret 2011
shodaqta, tulisan penuh faidah Ustadz

Asmien , Sabtu, 12 Maret 2011
yang punya dalil tentang pelarangan penyebutan “sayyid” silahkan di kekemukakan disini biar ada pembandingnya

Ariefdinejed , Sabtu, 12 Maret 2011
abang@..dalam/diluar sholat,itu pendapat/komentar pembaca,mohon lebih teliti.. Kalau menyebut ulama,guru agama dengan Tuan Guru,dan menyebut penguasa dgn Yg Mulia,Yg dipertuan agung segala macam,kenapa menyebut Rasulullah SAW dgn Sayyid jadi alergi..?diatas juga sudah dijelaskan tentang derajat dan keutamaan Beliau jadi sdh selayaknya sebutan tsb .. sedangkan hadits yg mengisyaratkan agar tdk berlebihan dlm memuji beliau, menurut sebagian Ulama adalah kekhawatiran beliau akan pengagunganyg berlebihan seperti umat Kristiani thd Nabi Isa AS… Wallahu a’lam bissawab…

Umam , Ahad, 13 Maret 2011
Akan baik kalau kita-kita jangan berdebat masalah yang furu Ayo banyak tilawah, selalu wasiat dalam kebaikan. Contohnya ya ayo ber-baik-baik selalu

Nandang , Ahad, 13 Maret 2011
jika anda mau konsisten dengan pengucapan,,sayyidina,,ketika mengumandangkan azdan pun anda harus pake sayyidina..pengucapan,,sayyidina,,boleh aza dilakukan,asalkan tidak didalam bacaan yg redaksinya telah ditentukan oleh Allah & Rosul-Nya.

Arif , Ahad, 13 Maret 2011
yang sreg pakai sayidina silahkan…yang gak mantap tanpa sayidina..monggo….yang penting istiqomah saja dalam aturan Allah dan Rosul….dan bisa tau diri…ilmu kita masih jauh dan amat jauh dibanding dgn para Ulama pendahulu qt..so mari perbaiki mutu keislaman masing2….selamat berjuang

Abufarid , Senin, 14 Maret 2011
Ane jd bngung ni, klo smue diagap saleh Ulame2 dulu qte jadi ahli nerake ame tu yg nyebut2 bid’ah, lalu ilmu qte2 skrg emangnye jauh lebih mumpuni, se7 sorge nrake jgn dikapling2. Sykron Ust.Drl Ifta’ paling netral sedunie. Mari rukun Ikhwani. Se7 Nugie.

Ikin , Senin, 14 Maret 2011
Pengingat Coba lihat Al Kahfi 110 Bagaimana tanggapannya

Umam , Senin, 14 Maret 2011
Kalau saya baca al-Umm karya Imam Syafii ternyata ketika Tasyahhud dalam Juz 1 hal 153, beliau tidak menganjurkan memakai sayyidinaa. Lihatlah sendiri bukunya. Saya coba tulis disini tetapi ternyata tidak bisa di save.

Tyo , Selasa, 15 Maret 2011
ane belum pernah dengar orang adzan/iqomah dengan lafal ashadu anna sayidina muhammada rasullah.

Abdullah , Selasa, 15 Maret 2011
Mau memakai sayyid atau tidak kepada Rasulullah SAW, semuanya kita kembalikan kepada Allah Ta’ala. Intinya adalah, kita tetap selalu menghormati beliau SAW dan memberikan salam serta shalawat kepadanya

Karimah , Rabu, 16 Maret 2011
Imam As Syafi’i belum membahas sampai masalah penggunaan sayyid. Tidak bisa disimpulkan bahwa hal itu tidak doleh atau lebih utama menurut beliau. Yang membahas masalah tasyid dalam tasahud dari Syafi’iyah adalah syeikh Izuddin bin Abdissalam, Ibnu Jama’ah, Imam Al Mahalli, Syihabuddin Ar Ramli, Syamsuddin Ar Ramli, Ibnu Hajar Al Haitami, Zakaria Al Anshari, Syarqawi, Al Malibari, Ad Dimyathi, As Syubramalisi, Al Baijuri, Al Bujairimi, Ibnu Alan dll. Mereka menyatakan hal itu lebih utama

Orang Jogja , Selasa, 15 Maret 2011
Ternyata ada yang mengatakan pendapat anda lemah menurut Ulama besarnya tapi imannya lemah ngak ya menurut para komentantor

Purnawan , Rabu, 16 Maret 2011
Kenalilah kebenaran engkau akan mengetahui para ahlinya atau ahli kebenaran. jalani hidup ini dengan penuh kebijaksanaan (al-hikmah) ya semoga Allah SWT memberikan keridhaan kepada orang orang yang yang mencari keridhaan-Nya .Bukan orang yang mau menang sendiri.

Dedek , Jum’at, 18 Maret 2011
wah hidayatullah gimana sih

Genta , Senin, 21 Maret 2011
bukannya ad hadist yg mngatakn bhw rasullullah tidak mau d sayyidkan, krn bliau takut kalau2 umatnya mninggikan derajtnya mlebihi ap yg Allah berikan. Takutnya ky umat nabi Isa as. wallahua\’lam bi ash shawab

Zainal , Kamis, 24 Maret 2011
penggunaan kata ‘sayyid’ dasarannya jelas., yang melarang penggunaan ‘sayyid’ ada pula., bagi yang meyakini dengan dalil di kedua pendapat silahkan melakukannya. Tanpa ada saling tuduh bahwa itu bid’ah… Saya sering sakit hati jika dituding perbuatan itu bid’ah, padahal semua itu memiliki dasar yang kuat untuk dilakukan, saya melihat dr glongan mereka tak lain melakukan sunnah tp sibuk mencari dan menuding bid’ah2. Mulutnya berbusa menyerukan ukhuwah islamiyah tp hujatan masih saja dilontarkan.

Muslim Enerjik , Kamis, 24 Maret 2011
Kesimpulannya: yg mau pakai sayyid ada dalilnya, yg nggak mau pakai jg ada dalilnya. silahkan pilih kalau mantap pakai sayyid, monggo. yg mantap nggak pakai sayyid juga monggo.Atau ketika shalat nggak pakai, diluar shalat pakai, juga monggo. Yang paling penting lagi perlu pemikiran kita: Mengapa umat muslim msh banyak yg miskin? msh banyak yg belum terdidik? msh banyak tingkat kesehatannya mengkhawatirkan? Mengapa ekonomi indonesia sebagian besar dikuasai non-muslim (misalnya Chinese)? Mengapa SDM kita kalah bersaing? dan lain-lain. Andaikan masjid2 dan mushalla di Indonesia kajian-kajian seputar msalah2 besar ini, saya yakin umat Islam Indonesia makin hari makin bangkit lebih baik. wallahu a’alam bih-shawab. syukron.

Abu Syahdan , Jum’at, 25 Maret 2011
Prof. Dr. dr. ir. H. Pulan bin Pulan MA, SH, MH, Phd…. ini loh gaya orang kita yang gila gelar kalau bisa semua mau ditaruh di depan namanya mau pun di belakang namanya. Pada hal gelaran itu gak ngejamin dia bakal masuk Syurga… sementara Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam yang di jamin masuk Syurga gak ribet dengan gelaran, jadi buat ente-ente gak usah deh ngeributin gelaran Rasul, (Beliau sih jaminannya udah Syurga) tinggal kita urus ibadah kita dan contoh perilaku nabi supaya bisa digolongkan kepada kelompok beliau.

Wadii , Sabtu, 26 Maret 2011
Berpikirlah kelemahan islam pada negara ini, ditelanjangi gayus, pns yg kurang ajar, islam yg kurang inovatif, mari cari kebaikan bersama, musuh didepan telah menyerang kita tapi apa yg telah kita lakukan.Stop Saling Hujat

Fulan Bin Fulan Bin Fulan Bin , Ahad, 27 Maret 2011
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh: Menurut ane yg Pakai “Sayyid” BENAR, Dalilnya Ada. yg ga pakai \”Sayyid\” jg BENAR, ada Dalilnya jg. “YANG SALAH ADALAH YANG GA’ PAKAI “SAYYID” MEMBID’AHKAN, MENGHUJAT YANG PAKAI “SAYYID” DAN G\’ SHOLAT PULA ckckckckck Masya Allah T_T ISLAM itu Agama Kebenaran, yang Ga’ Benar itu Agama Selain ISLAM. Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Ahmad Bahtera , Senin, 28 Maret 2011
Ko debatnya kaya gini sih, lebih baik yang berbeda pendapat ajukan dalil lagi, kalo emang anda anggap haditsnya lemah tolong sebutkan di forum ini. maaf saudar2ku debat ini kurang ilmiah dan terkesan emosional, sampai ada yang bilang afala ta`qiluun segala.. ayolah debat ilmiah saja ga usah pake menghujat dll. saya mencintai kalian semua karena Allah

Azisj , Senin, 28 Maret 2011
Mungkin Allah tersenyum melihat perdebatan kawan kawan di sini…..yang masing masing punya dalil, silakan saja pakai menurut keyakinan masing-masing, lha wong Rasulullah aja nggak pernah marah kepada umatnya, kecuali kepada orang kafir yg menghina agama kita. Yok kita bersatu aja. yahudi, amerika, dll seneng lho liat kita terpecah belah,……….Semoga Allah mengampuni kita semua…..Amin

Bent Syahab , Senin, 28 Maret 2011
Tidak ada dalil yang melarang melafazkan kata “Sayyidunaa” kpd Sayyidinaa Muhammad SAW . .

Abdillah , Selasa, 29 Maret 2011
memang ada dalil mengatakn. sholatlah kamu sebagamna aku sholat. tapi apakah sepantasnya Rosul kita menghomati dirinya sendiri.

Anang , Kamis, 31 Maret 2011
kok bisa2nya bilang dalilnya lemah, padahal itu yang bicara adalah darul ifta’, bukan sembarangan lembaga. ulama’ wahabi aja diskusi ama sayyid maliki KO

Wahyudi , Jum’at, 08 April 2011
ya smua punya pendapat…tinggl mna yg kita pilih…kl bukan mufasirin.n muhadistin…sebiknya diam….salafi sukanya ama …taimiyah,, qoyim.utsaimin,albani…dll…ya biarin aja.

Sarkum , Kamis, 14 April 2011
YANG BID’AH DAN SALAH ORANG YANG TAK MAU BACA SOLAWAT ATAS NABI S.A.W…… AYOOOOOO SOLAWAAAAAATTTTTT

Fathoni , Selasa, 19 April 2011
Nabi Muhammad, sayyid kita, junjungan kita, Nabi yang tanpanya tak akan ada dunia ini tak pernah marah bila dipanggil sayyid atau tidak, nabi teranggun dan teragung itu sungguh besar menerima perbedaan. Dengan sayyid ataupun tidak, nabi pasti tahu siapa yang mencintainya dan siapa yg munafik diantara kita.

Daddy , Rabu, 04 Mei 2011
yang salah ya yang emosional. Jika anda yakin dengan penambahan sayyid di depan muhammad saw ya gak usah sakit hati kalo dikatain bid’ah, apalagi nyerang pribadi orangnya dengan kata2 “ilmunya sempit, belum rampung ngaji, dll”

Hendri , Sabtu, 14 Mei 2011
terserah antum-antum yg mana yang diyakini,semua uda jelas dan sama-sama ada hadist…buat haidayatullah maju terus sampaikan kebeneran

Jihan As Shobirin , Ahad, 22 Mei 2011
Di Pesantren Hidayatulloh di Jawa Timur tempat anak saya nyantri, “DIHARAMKAN” dalam sholat & ibadah memakai “SAYYID” di depan nama Nabi SAW….apa DPP Hidayatulloh sudah merubah fatwanya? apa penulis disini yg sudah tercemar “bid’ah” ?

Tasdiq , Senin, 23 Mei 2011
emmmmmmh, no coment soale takut kalau salah ngomong , soale inyong wong bodoh. hayoo coba dikaji lagi “kalimat sayyidina” masuk ke ibadah maghdoh apa ghoiro maghdoh?????? orang beriman adalah yang mulutnya terjaga dari mencelakai sodaranya. coba kalau Nabi Muhammad SAW punya hp kan kita bisa sms nanyain boleh ga aku panggil sayyidina he he he

KIRIM KOMENTAR ANDA :

Nama
Email
Komentar Anda
Kode Keamanan

CAPTCHA Image

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Hidayatullah.com. Redaksi berhak menghapus/menutup komentar yang berbau pelecehan, kasar, intimidasi, bertendensi SARA.

Peluang Usaha

Grosir Kaos Kaki

GROSIR KAOS KAKI, tersedia aneka warna, dibutuhkan reseller seluruh Indonesia. Hub. Rina 08155100517 http://www.serbaadamuslim.com

Berita Fatwa Lainnya
Produksi Parfum dengan Alkohol
Dar Al Ifta’ Larang Penyesatan terhadap …
Berdoa Kebaikan Dunia untuk Orang Kafir
Akhirnya, Salafi Bolehkan Pemilu
Haramnya Tato dan Operasi Kecantikan
Tatkala Salafi Memilih Berdemonstrasi
Ulama Aljazair Keluarkan Fatwa Larangan …
Hukum Kerja di Warnet
Al Qaradhawi:”Al Qadianiyah, Minoritas N…
Bertaubat dari Zina Saat Tidak Diterapka…
Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan |
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved

Tinggalkan sebuah Komentar

kalau ada perselisihan, jumhur no minoritas yes, kalau kepipit pilih boleh

Produksi Parfum dengan Alkohol

Jum’at, 27 Mei 2011

Hidayatullah.com–Dar Al Ifta Al Mishriyah dalam fatwanya no. 3669 membahas menganai hukum parfum yang dicampur alkohol, sebagaimana dipubilkasikan dalam situs dar-alifta.com.

Dalam fatwa itu disebutkan, jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa fisik khamr adalah najis, sebagaimana disebutkan Imam Al Qurthubi saat menafsirkan ayat, yang terjemahnya,”Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah kotor dari amalan syeitan, maka jauhilah itu agar kalian beruntung.” (Al Maidah: 90).

Imam Al Qurthubi menyebutkan bahwa pendapat yang menyatakan najisnya khamr adalah pendapat jumhur ulama. Namun ada pula beberapa ulama yang menilai bahwa khamr tidaklah najis, seperti Al Alaits, Ibnu Sa’d, Al Muzani dan sebagian ulama muta’akhirin Baghdad dan Qairawan.

Bertolak dalam hal di atas, jika alkohol yang digunakan untuk parfum adalah ethyl alkohol (ethanol) maka bahan itu termasuk khamr, dan menggunakannya sebagai bahan utama parfum menyebabkan ia najis dan dilarang menggunakannya menurut pendapat jumhur. Namun hal itu dibolehkan menurut sebagian ulama seperti Al Laits, Al Muzani dan Rabi’ah, karena mereka tidak menilai bahwa khamr najis. Walhasil dalam masalah ini ada perbedaan pendapat di kalangan para fuqaha’.

Kaidah umum menyebutkan bahwa keluar dari khilaf adalah hal yang mustahab, namun ada kaidah juga bahwa siapa yang tidak bisa menghindari perkara yang diperselisihkan, maka hendaknya ia bertaklid kepada siapa yang membolehkan.

Maka lebih utama bagi pihak penanya untuk tidak menggunakan alkohol sebagai campuran untuk parfum, namun jika menggunakan alkohol berdasarkan taklid kepada para ulama yang membolehkan maka ia tidak berdosa dan tidak mengapa.

Jawaban ini merespon pertanyaan seorang pengusaha pembuat parfum yang biasa mencampur parfum dengan alkohol sebanyak 80, hingga 90 persen, yang menanyakan apakah perbuatan ini dibolehkan.*

Tinggalkan sebuah Komentar

ekonomi Islam

Berekonomi secara Islam
Oleh: Ahmad Ubaidillah, Mahasiswa S2 Studi Islam UII Yogyakarta
Banjarmasinpost.co.id – Jumat, 25 Maret 2011 | Dibaca 271 kali | Komentar (0)
ARTIKEL TERKAIT:

* BOS Telat Sekolah Ngadat
* Berpacu Menyelamatkan Air Bersih
* Menyoal Hak Rakyat Atas Air
* Mendidik Anak Disiplin Tanpa Hukuman

FAKTA sejarah menunjukkan bahwa Islam merupakan sistem kehidupan yang bersifat kompreshensif dan lengkap. Islam mengatur semua aspek kehidupan, baik aspek sosial, politik, spiritual maupun aspek ekonomi.

Dalam menjalankan semua aktivitas ekonomi (produksi, konsumsi, distribusi), Islam telah menetapkan seperangkat aturan yang merupakan batas-batas perilaku manusia, sehingga menguntungkan individu tanpa merugikan individu yang lain.

Perilaku itulah yang harus diawasi dengan ditetapkannya aturan-aturan yang berlandaskan aturan Islam, untuk mengarahkan manusia agar melaksanakan aturan dan mengontrol serta mengawasi berjalannya aturan itu. Aturan-aturan tersebut terangkum dalam ekonomi Islam.

Sistem ekonomi Islam sangat berbeda dengan sistem ekonomi lainnya (kapitalis, sosialis). Hal yang membedakan dengan sistem ekonomi yang lainnya adalah terletak pada aturan moral dan etika. Aturan yang dibentuk dalam ekonomi Islam merupakan aturan yang bersumber pada kerangka konseptual masyarakat dalam hubungannya dengan kekuatan tertinggi (Tuhan), kehidupan, sesama manusia, dunia, sesama makhluk dan tujuan akhir manusia.

Sedangkan pada sistem yang lain, tidak terdapat aturan yang menetapkan batas-batas perilaku manusia, sehingga dapat merugikan satu pihak dan menguntungkan pihak lainnya.

Karasteristik ekonomi Islam bersumber pada ajaran Islam itu sendiri (Alquran dan hadis) yang meliputi: pertama, menghormati hak milik pribadi, baik itu barang- barang konsumsi ataupun barang- barang modal. Meskipun hak milik pribadi dijamin, pemanfaatannya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan orang lain. Jadi, kepemilikan dalam Islam tidak mutlak, karena pemilik sesungguhnya adalah Allah SWT.

Kedua, ekonomi Islam terikat dengan akidah, syariah (hukum), dan moral. Di antara bukti hubungan ekonomi dan moral dalam Islam (yafie, 2003: 41-42) adalah: larangan terhadap pemilik dalam penggunaan hartanya yang dapat menimbulkan kerugian atas harta orang lain atau kepentingan masyarakat. Larangan melakukan penipuan dalam transaksi, larangan menimbun emas dan perak atau sarana- sarana moneter lainnya, sehingga mencegah peredaran uang, larangan melakukan pemborosan, karena akan menghancurkan individu dalam masyarakat.

Ketiga, keseimbangan antara kerohanian dan kebendaan. Dalam hal ini, beberapa ahli Barat memiliki tafsiran tersendiri terhadap Islam. Mereka menyatakan bahwa Islam sebagai agama yang menjaga diri, tetapi toleran (membuka diri). Selain itu, para ahli tersebut menyatakan Islam adalah agama yang memiliki unsur keagamaan (mementingkan segi akhirat) dan sekularitas (segi dunia). Sesungguhnya Islam tidak memisahkan antara kehidupan dunia dan akhirat.

Keempat, menciptakan keseimbangan antara kepentingan individu dengan kepentingan umum. Arti keseimbangan dalam sistem sosial Islam, tidak mengakui hak mutlak dan kebebasan mutlak, tetapi mempunyai batasan- batasan tertentu, termasuk dalam bidang hak milik. Hanya keadilan yang dapat melindungi keseimbangan antara batasan- batasan yang ditetapkan dalam sistem Islam untuk kepemilikan individu dan umum.

Kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang untuk menyejahterakan dirinya tidak boleh dilakukan dengan mengabaikan dan mengorbankan kepentingan orang lain dan masyarakat secara umum.

Kelima, kebebasan individu. Dalam Islam Individu-individu dalam perekonomian Islam diberikan kebebasan untuk beraktivitas baik secara perorangan maupun kolektif untuk mencapai tujuan. Namun kebebasan tersebut tidak boleh melanggar aturan- aturan yang telah digariskan Allah SWT. Dengan demikian, kebebasan tersebut sifatnya tidak mutlak.

Prinsip kebebasan itu sangat berbeda dengan prinsip kebebasan sistem ekonomi kapitalis maupun sosialis. Dalam kapitalis, kebebasan individu dalam berekonomi tidak dibatasi norma- norma ukhrawi, sehingga tidak ada urusan halal atau haram.

Sementara dalam sosialis justru tidak ada kebebasan sama sekali, karena seluruh aktivitas ekonomi masyarakat diatur dan ditujukan hanya untuk negara.

Keenam, campur tangan negara. Islam memperkenankan negara untuk mengatur masalah perekonomian agar kebutuhan masyarakat baik secara individu maupun sosial dapat terpenuhi secara proporsional.

Dalam Islam negara berkewajiban melindungi kepentingan masyarakat dari ketidakadilan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, ataupun dari negara lain. Negara juga berkewajiban memberikan jaminan sosial agar seluruh masyarakat dapat hidup secara layak.

Peran negara dalam perekonomian pada sistem Islam jelas berbeda dengan sistem kapitalis yang membatasi peran negara. Sebaliknya juga berbeda dengan sistem sosialis yang memberikan kewenangan negara untuk mendominasi perekonomian secara mutlak.

Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Salah satu unsur kesempurnaan manusia adalah dapat membedakan benar-salah, halal-haram. Unsur itu disebut nurani.

Begitu juga dalam aktivitas ekonomi, kalau seseorang menjalankan altivitas ekonomi dengan mengedepankan nilai-nilai Tuhan, ia akan merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya, sehingga perbuatan buruk, salah, tak pantas dan sebagainya yang dapat merugikan diri dan orang lain bisa diminimalisasi atau dihilangkan.

Oleh karena itu, menjalankan aktivitas ekonomi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam perlu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu aktivitas ekonomi tersebut dapat bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
red: Syamsul FarhanSumber: BANJARMASIN POST Edisi cetak
Share
Cetak
Kirim Artikel
Redaksi Bpost Group: 0511 3354370
Email : redaksi@banjarmasinpost.co.id atau banjarmasin_post@yahoo.com
Iklan : 08115003012
Sirkulasi & Promosi : 08115002002

Dapatkan kabar Banua terbaru melalui ponsel, blackberry anda di: http://m.banjarmasinpost.co.id

Tinggalkan sebuah Komentar

bank syari’ah?

Perbankan Syariah Benarkah Syar‘i
Banjarmasinpost.co.id – Jumat, 8 April 2011 | Dibaca 108 kali | Komentar (0)
ARTIKEL TERKAIT:

* Tantangan Memasyarakatkan Ekonomi Syariah
* Ekonomi Syariah dan Tantangannya
* Kecurangan Internal Perbankan Indonesia
* Kesadaran Politik Berbasis Syariah

Oleh: Mirna

Secara umum, bank adalah lembaga yang melaksanakan tiga fungsi yaitu menerima simpanan uang, meminjamkan uang dan memberikan jasa pengiriman uang.

Di dalam sejarah prekonomian Islam, pembiayaan yang dilakukan dengan akad dan sesuai syariah telah menjadi bagian dari tradisi umat Islam sejak zaman Rasulullah.

Dalam Islam orang-orang yang memiliki kemampuan untuk menerima, menyalurkan dan melakukan transfer dikenal dengan istilah naqid, sarraf, dan jihbiz.

Bank yang pertama kali dibentuk di dunia bersifat konvensional, yang lazimnya menggunakan sistem bunga bagi nasabah.

Oleh karena bunga dalam fikih dikatagorikan riba maka sejumlah negara Islam yang mayoritas penduduknya muslim melakukan usaha untuk mendirikan bank alternatif nonribawi yang sekarang dikenal dengan nama bank syariah, kegiatannya berdasarkan prinsip syar’i.

Di Indonesia bank syariah pertama didirikan pada 1992 yaitu bernama Bank Muamalat Indonesia (BMI). Walaupun perkembangannya terlambat bila dibandingkan dengan negara muslim lainnya perbankan syariah di Indonesia akan terus berkembang. Bahkan berdasarkan riset KARIM Growth Model, total asset bank syariah di Indonesia mencapai satu sampai dua persen dari industri perbankan nasional.

Dalam bank syariah ada lima transaksi yang lazim dipraktikkan yaitu transaksi tidak mengandung riba, transaksi yang ditujukan untuk memiliki barang dengan cara jual beli (murabahah).

Transaksi yang ditujukan untuk mendapatkan jasa dengan cara sewa (ijarah), transaksi yang ditujukan untuk mendapatkan modal kerja dengan cara bagi hasil serta transaksi deposito, tabungan, giro yang imbalannya adalah bagi hasil (mudharabah) dan transaksi titipan (wadiah).

Ada banyak jenis riba salah satunya adalah nasi’ah, riba yang umumnya kita jumpai di bank-bank umum yang sifatnya konvensional. Misalnya pemberian bunga pada nasabah yang memiliki jumlah nominal tabungan besar.

Kini bermunculan bank syariah, namun pertanyaannya apakah memang sesuai prinsip syariah?

Kenyataannya banyak bank syariah yang melenceng dari koridor syar’i. Standarnya bukan pada aspek manfaat atau kinerjanya, melainkan sejauh mana bank syariah berpegang teguh dengan syariah Islam.

Berdasarkan standar syariah Islam ini, Ayid Fadhl Asy-Syarawi dalam kitabnya Al-Masharif Al-Islamiyah menyoroti wilayah bank syariah.

Tak dapat diingkari, bank syariah tumbuh dan berkembang dalam habitat abnormal yaitu dalam sistem ekonomi kapitalistik-sekular yang anti syariah.

Karena itulah banyak terjadi kontradiksi antara bank syariah dengan sistem kapitalis yang menjadi tempat hidupnya. Contohnya, dalam bank syariah berlaku prinsip bagi hasil dan bagi rugi.

Sementara dalam sistem kapitalis, tidak dikenal istilah bagi rugi.

Dalam UU Perbankan Amerika Serikat, ada ketentuan walaupun bank mengalami kerugian, bank harus mengembalikan simpanan nasabah secara utuh.

Tak hanya dalam bagi hasil, kontradiksi seperti itu juga terwujud dalam banyak hal, misalnya sistem akuntansi, aturan perpajakan, aturan badan hukum, serta aturan perdagangan baik dalam negeri maupun luar negeri.

Berbagai kontradiksi ini, cepat atau lambat akan menimbulkan penyimpangan demi penyimpangan yang akan makin bertumpuk-tumpuk. Kondisi ini akan membuat umat Islam hidup dalam kebingungan dan kebimbangan.

Karena pilihannya hanya dua: bank konvensional yang menjalankan riba, atau bank syariah yang penuh dengan penyimpangan. Adapun kritik secara rinci untuk bank syariah, antara lain sebagai berikut :

1. Tak sedikit bank syariah di Timur Tengah yang menginvestasikan dananya di bank konvensional yang memberikan bunga di negara-negara Barat.

2. Kedua, terlibat dalam asuransi (ta‘min). Padahal asuransi hukumnya haram.

3. Ketiga, tidak pernah mengumumkan adanya kerugian. Ini suatu keanehan yang mengindikasikan penyimpangan.

4. Keempat, lemahnya pengawasan manajemen dan syariah. Ini mengakibatkan banyak akad tidak sesuai ketentuan syariah.

5. Kelima, dominannya aktivitas pedagangan melalui akad jual beli. Ini akan berimplikasi buruk, yaitu dominasi bank syariah yang akan mengendalikan penentuan harga dan laba untuk berbagai komoditi.

6. Keenam, kurangnya SDM yang cakap untuk mengelola keuangan syariah. Akibatnya, bank syariah mengambil pegawainya dari bank konvensional.

Dengan adanya kritik-kritik terhadap bank syariah ini dapat disimpulkan bank syariah penuh (dengan hal-hal yang meragukan karena terjadi berbagai penyimpangan syariah.

Setelah mengamati hal itu sebaiknya bank syariah yang berkembang hendaknya benar-benar menerapkan sistem syariah agar tidak menimbulkan fitnah dan ketidakpercayaan dari nasabah.

Peminat masalah perbankan syariah
red: DhenySumber: Banjarmasin Post
Share
Cetak
Kirim Artikel
Redaksi Bpost Group: 0511 3354370
Email : redaksi@banjarmasinpost.co.id atau banjarmasin_post@yahoo.com
Iklan : 08115003012
Sirkulasi & Promosi : 08115002002

Dapatkan kabar Banua terbaru melalui ponsel, blackberry anda di: http://m.banjarmasinpost.co.id

Tinggalkan sebuah Komentar

Islam dan HAM

ntara Maqashid Syariah dan Karakter Umat (3)

Rabu, 16 Maret 2011

Tulisan Pertama / Tulisan Kedua

Oleh: Dr Elly Warti Maliki

Kedua: Hak hidup sebagai dasar untuk menjaga jiwa

Jika hukuman mati dan segala bentuk sanksi fisik disyariatkan untuk menjaga jiwa, maka memenuhi kebutuhan hidup seperti makan dan minum, pakaian dan tempat tinggal, kesehatan dan keamanan merupakan hak hidup yang harus dipenuhi. Sumber kedua hal tersebut terdapat di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah.

“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah 2:179).

Hal ini kemudian dijelaskan oleh Al-Sunnah: “Barang siapa membunuh dengan sengaja maka ia harus dihukum qishash.” (Hadis riwayat Abu Daud).

Adapun yang berhubungan dengan hak hidup, Islam telah mengatur kebutuhan manusia terhadap materil sedemikian rupa, mulai dari cara mendapatkannya, pendistribusiannya sampai kepada pemanfaatannya. Mulai dari sandang, pangan dan papan sampai kepada kenyamanan dan ketentraman hidup. Allah S.W.T. telah memerintahkan kaum muslimin untuk mencari harta yang halal, kemudian menafkahkannya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan Allah di dalam al-Qur’an, membayarkan zakat, infaq dan sedekah kepada fakir miskin dan golongan lain yang berhak menerimanya, sehingga tidak ada orang yang hidup terlantar.

Sehubungan dengan cara mendapatkan harta kekayaan dan pendistribusiannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya Allah S.W.T. berfirman: “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (QS. Al-Baqarah 2:275).
Pada ayat lain Allah S.W.T. berfirman: “Sesungguhnya zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Taubah 9:60).

Solidaritas sosial ini selanjutnya ditegaskan oleh Al-Sunnah, di antaranya diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w: “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman. Ditanya: “Siapa, ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Orang yang tidur dalam keadaan kenyang sedangkan tetangganya lapar dan dia mengetahuinya.” (Hadis riwayat Anas bin Malik).

Hak hidup di sini mengandung makna bahwa setiap orang di dunia ini berhak untuk hidup layak, cukup pangan, sandang dan papan, bebas dari kemiskinan dan penindasan. Untuk itu, sistim ekonomi dan politik dunia, harus dapat membuat tatanan masyarakat dunia yang bebas dari kemiskinan dan hidup penuh rasa nyaman serta bebas dari rasa takut dan tekanan.

Dengan demikian, kekayaan dunia yang hanya awalnya dipegang segelintir orang dan terfokus dinegara-negara maju dapat didistribusikan secara merata untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup manusia secara keseluruhan. Konsep ini sejalan dengan resolusi PBB yang belakangan diterapkan, tentang penghapusan kemiskinan yang tercantum dalam butir pertama Mellenium Development Goals dan ditargetkan tercapai menjelang tahun 2015. Padahal, ini telah disampaikan dalam al-Quran belasan abad Islam.

Ketiga: Hak berpendidikan sebagai dasar untuk menjaga akal

Jika larangan meminum khamar dan semua minuman yang memabukkan disyariatkan untuk menjaga akal, maka mengembangkan fungsi akal melalui pendidikan formal dan non-formal, penyediaan bahan bacaan, penelitian dan berbagai bentuk kegiatan yang dapat mengoptimalkan fungsi akal merupakan hak pendidikan yang harus dipenuhi.

Sumber kedua hal tersebut terdapat di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah menjelaskannya.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah 5:90).

Adapun yang berhubungan dengan hak pendidikan, Allah S.W.T. telah memerintahkan kaum muslimin untuk menuntut ilmu, dan menempatkan orang yang berilmu lebih tinggi beberapa derajat. Allah S.W.T. berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu:` Berlapang-lapanglah dalam majelis `, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan:` Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Mujadilah 58:11).

Al-Sunnah menegaskan: “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan”. (Hadis riwayat Ibnu Majah).

Hak berpendidikan berarti bahwa setiap orang di dunia ini berhak mendapatkan ilmu pengetahuan sesuai dengan kemampuannya. Pihak manapun – baik pemerintah ataupun non-pemerintah, individu ataupun organisasi – tidak boleh melarang atau menghalangi seseorang untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya. Sebaliknya badan-badan ini harus menyediakan berbagai fasilitas untuk mencapainya. Dengan cara ini, arah maqashid syariah telah dirubah dan dikembangkan dari sekedar menjaga struktur akal kepada mengoptimalkan fungsi akal tersebut.

Pendidikan berkualitas merupakan dasar bagi pembangunan ekonomi sosial untuk mengakhiri kemiskinan dan keterbelakangan. Jika di tingkat “alam Islamy” (dunia Islam) para cendekiawan dan hartawan dapat melakukan kerjasama untuk memberantas buta huruf dan kebodohan dikalangan umat Islam, kemudian bersama-sama mengembangkan teknologi menuju kemandirian iptek untuk mengurangi ketergantungan kepada negara maju, maka akan terbentuklah “khairu ummatin” yang berkualitas, yang lebih berpendidikan dan lebih berilmu pengetahuan.

Hal ini juga sejalan dengan program “Pendidikan Untuk Semua” yang dicanangkan PBB melalui “Millennium Development Goals”. Atas dasar ini, dunia Islam yang merupakan pihak yang sangat berkepentingan dalam memajukan pendidikan masyarakatnya, diharapkan ikut berpartisipasi aktif dalam mendorong dan merealisir tercapainya tujuan tersebut.

Keempat: Hak bekerja sebagai dasar untuk menjaga harta

Jika hukuman bagi pencuri dan sanksi serta tuntutan jaminan bagi perampas kekayaan disyariatkan untuk menjaga harta, maka bekerja, berkarya, mendorong orang untuk mendapatkan kekayaan yang halal, menginvestasikannya, dan juga menyediakan lapangan kerja merupakan hak bekerja yang harus dipenuhi. Sumber kedua hal tersebut juga terdapat di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah menjelaskannya.

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Maidah 5:38). Hal ini kemudian dijelaskan oleh Al-Sunnah bahwa pada zaman Rasulullah s.a.w, baginda tidak memotong tangan seseorang yang mencuri kurang dari harga sebuah perisai”. (Hadis riwayat Aisyah r.a).

Adapun yang berhubungan dengan hak bekerja, Allah S.W.T. telah memerintahkan kaum muslimin untuk giat bekerja dan mendapatkan kekayaan secara halal.
Allah S.W.T. berfirman: “Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung”. (QS. Al-Jumuah 62:10).

Dalam ayat lain Allah berfirman: “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan”. (QS. Al-Baqarah: 2/148).

Dorongan untuk giat bekerja kemudian ditegaskan Rasulullah saw melalui sabdanya: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah”. (Hadis riwayat Abu Hurairah).

Dengan dimasukannya hak bekerja sebagai hak asasi bagi manusia, orang akan terdorong untuk bekerja dan meningkatkan taraf hidupnya, yang pada gilirannya akan melahirkan sikap optimis untuk terus melakukan penemuan-penemuan. Hal ini sekaligus dapat memotivasi orang untuk selalu berfikir produktif dan membuat karya-karya baru, yang dapat meningkatkan kemandirian ekonomi sehingga setiap saat siap menghadapi perubahan pasar. Karena kerja merupakan wujud keberadaan manusia di muka bumi dan seseorang dikenal dan diperhitungkan berdasarkan kerja yang dilakukan, maka fighting spirit (semangat bersaing) yang diberikan Islam untuk melakukan kebaikan, seharusnya dapat mengantarkan umat ini mencapai kejayaan.

Selain pekerjaan itu sendiri, hak bekerja berarti juga bahwa setiap pekerja berhak mendapatkan standar gaji minimum, asuransi kesehatan, keselamatan kerja, jaminan hari tua dan fasilitas lainnya sesuai tingkat pendidikan dan kemampuannya.

Tidak ada negara yang dapat berbuat sewenang-wenang terhadap pekerja. Negara yang berbuat sewenang-wenang terhadap pekerja dan tidak memberikan haknya dapat dikategorikan sebagai pelanggar HAM dan dapat dikenakan sangsi. Dengan cara ini, arah maqashid syariah telah dirubah dan dikembangkan dari sekedar menjaga harta yang ada kepada upaya untuk mendapatkan, sekaligus mengembangkannya.

Kelima: Hak pengakuan eksistensi sebagai dasar untuk menjaga harga diri.

Jika hukuman bagi penuduh dan sangsi bagi penghasut, penggunjing dan pencela disyariatkan untuk menjaga harga diri manusia, maka pengakuan eksistensi kemanusiaan melalui persamaan, keadilan dan persaudaraan merupakan hak kemanusiaan yang harus dipenuhi. Sumber kedua hal tersebut terdapat di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah menjelaskannya.

Sehubungan dengan hukuman bagi penuduh Allah S.W.T. berfirman: “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik”. (QS. Al-Nuur 24:4).

Adapun yang berhubungan dengan penghormatan, persamaan dan keadilan, Allah S.W.T. telah memuliakan anak Adam yaitu seluruh manusia dan memerintahkan untuk berbuat adil kepada siapapun tanpa kecuali, baik kepada orang yang disukai ataupun terhadap orang yang dibenci. Allah S.W.T. berfirman: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (QS. Al-Isra’ 17:70).

Dalam ayat lain Allah S.W.T. berfirman: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS. Al Maidah: 5/8).

Keadilan sebagai asas masyarakat Islam ditegaskan Rasulullah dalam sabda beliau: ”Demi Allah, jikalau Fatimah binti Muhammad mencuri, akan aku potong tangannya.” (Hadis Riwayat Aisyah r.a.).

Hak pengakuan terhadap eksistensi diri manusia berarti bahwa sebagai makhluk sosial, manusia sama dihadapan Allah S.W.T dan sama dihadapan hukum. Setiap orang berhak diperlakukan secara adil dan berprikemanusiaan. Hal ini berlaku dimasa damai maupun ketika terjadi peperangan. Manusia adalah manusia sekalipun sudah menjadi jasad tidak bernyawa. Dalam peperangan ataupun bencana alam, penguburan manusia tidak boleh dilakukan sebagaimana binatang dikuburkan. Dengan cara ini, arah maqashid syariah telah dirubah dan dikembangkan dari sekedar menjaga harga diri kepada pengakuan eksistensi diri.

Epilog

Kelima hak yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Sunnah sebagaimana disebutkan di atas adalah hak asasi manusia lintas negara. Berlaku umum untuk seluruh manusia dimuka bumi ini. Terlepas dari ras, agama, status sosial, warna kulit dan lain sebagainya. Jika kelima hak tersebut dapat dijadikan landasan dalam menetapkan batasan hak-hak dasar bagi manusia maka setiap individu di muka bumi ini akan dapat hidup layak dan terlindungi.

Dengan demikian tidak seorang manusiapun yang perlu mengangkat senjata hanya untuk mendapatkan haknya.

Seorang muslim dalam kerangka “umat moderat” tidak menggunakan maqashid syariah sekedar untuk penjagaan atau perlindungan yang membuat mereka menjadi lemah, terbelakang dan tidak mampu menghadapi realita, bukan pula menggunakannya sekedar untuk pencapaian keinginan-keinginan dan kebutuhan hidup yang membuat mereka terlepas dari ikatan dengan Khaliqnya, menafikan eksistensi wahyu dan menegasikan syariat.

Sebaliknya, “umat moderat” menggunakan maqashid syariah secara seimbang. Di suatu saat digunakan untuk penjagaan terhadap agama, jiwa, akal, harta dan kehormatan, di saat lain digunakan untuk pengembangan dan pencapaian, sekaligus untuk menemukan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi.

Dengan demikian, seorang Muslim dalam kerangka “umat moderat”, akan memandang hidup ini melalui realita yang ada dan mampu berinteraksi dengannya untuk kemudian mengunggulinya. Bukan memandang sinis kenyataan dan memusuhinya, bukan pula cair dan larut di dalamnya.

Dengan sikap proaktif, dinamis dan adaptif yang dibangun melalui maqashid syari’ah, peran konsumen sebagai pelaksana kebijakan yang selama ini dijalankan umat, dengan sendirinya akan beralih kepada peran produsen sebagai pembuat kebijakan, atau setidaknya ikut berperan dalam membuat kebijakan tersebut. Dari situ –dalam berinteraksi dengan dunia global– umat diharapkan dapat memberikan kontribusi lebih besar dalam menentukan arah bagi tatanan dunia baru yang damai, lebih adil dan lebih manusiawi. *

Penulis adalah anggota International Union for Muslim Scholars
Rep: Administrator
Red: Cholis Akbar

Share |

KOMENTAR

Rusli , Rabu, 16 Maret 2011
Masalahnya, ummat dipimpin orang-orang yang tidak mengerti dan mau menerapkan syariah pada dirinya. Mereka emoh sholat berjamaah,…maunya hidup mewah…ingin gaji naik terus…..mana ada yang mau seperti Nabi …berlapar-lapar…??

KIRIM KOMENTAR ANDA :

Nama
Email
Komentar Anda
Kode Keamanan

CAPTCHA Image

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Hidayatullah.com. Redaksi berhak menghapus/menutup komentar yang berbau pelecehan, kasar, intimidasi, bertendensi SARA.

Berita Tsaqafah Lainnya
Antara Maqashid Syariah dan Karakter Uma…
Antara Maqashid Syariah dan Karakter Um…
Untuk HAM, Menghujat Islam! (1)
Untuk HAM, Menghujat Islam! (2)
Menyikapi ‘Nabi Palsu’ dan Ahmadiyah (2)
Menyikapi ‘Nabi Palsu’ dan Ahmadiyah (1…
Mirza dan Klaim Wahyu yang Tak Terbukti
Ahmadiyah Dibela, Islam Dihujat!
Solusi Problem Ahmadiyah
Kisah Agama Ahmadiyah
Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan |
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved

Tinggalkan sebuah Komentar

Older Posts »
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.